Sejarah

Sejarah Kota Medan, Pernah Dengar?

Kota Medan ialah ibu kota provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Kota ini ialah kota terbesar ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Surabaya, serta kota terbesar di luar pulau Jawa.

Kota Medan ialah pintu gerbang kawasan Indonesia komponen barat dengan keberadaan Pelabuhan Belawan dan Bandar Udara Internasional Kuala Namu yang ialah bandara terbesar kedua di Indonesia.

Peradaban di Medan terus berkembang hingga Pemerintah Hindia Belanda memberikan status kota pada 1 April 1909 dan menjadikannya sentra pemerintahan Karesidenan Sumatra Timur.

Memasuki abad ke-20, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, khususnya setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.

Medan ialah kota multietnis yang penduduknya terdiri dari orang-orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda. Kecuali Melayu dan Karo sebagai penghuni permulaan, Medan didominasi oleh etnis Jawa, Batak, Tionghoa, Minangkabau, Mandailing, dan India.

Medan berasal dari kata bahasa Tamil Maidhan atau Maidhanam, yang berarti tanah lapang atau daerah yang luas, yang kemudian teradopsi ke Bahasa Melayu.

Hari jadi Kota Medan diperingati tiap-tiap tahun semenjak tahun 1970 yang pada awalnya diatur pada tanggal 1 April 1909. Tanggal ini kemudian mendapat bantahan yang cukup keras dari kalangan pers dan sebagian ahli sejarah.

Sebab itu, Wali kota menyusun panitia sejarah hari jadi Kota Medan untuk melakukan penelitian dan penelusuran.

Dalam buku The History of Medan artikel Tengku Luckman Cahaya (1991), dituliskan bahwa berdasarkan Hikayat Aceh, Medan sebagai pelabuhan sudah ada pada tahun 1590, dan sempat dihancurkan selama serangan Sultan Aceh Alauddin Saidi Mukammil terhadap Raja Haru yang berkuasa di situ.

Serangan serupa dijalankan Sultan Iskandar Muda tahun 1613, terhadap Kesultanan Deli. Sejak akhir abad ke-16, nama Haru berubah menjadi Ghuri, dan akibatnya pada permulaan abad ke-17 menjadi Deli.

Pertempuran terus-menerus antara Haru dengan Aceh mengakibatkan penduduk Haru jauh berkurang. Sebagai daerah taklukan, banyak warganya yang dipindahkan ke Aceh untuk dihasilkan pekerja kasar.

Kecuali dengan Aceh, Kerajaan Haru yang makmur ini juga tercatat tak jarang terlibat pertempuran dengan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaka dan juga dengan kerajaan dari Jawa. Serangan dari Pulau Jawa ini antara lain tercatat dalam kitab Pararaton yang diketahui dengan Ekspedisi Pamalayu.

Dalam Negarakertagama, Mpu Prapanca juga menuliskan bahwa kecuali Pane (Panai), Majapahit juga menumbangkan Kampe (Kampai) dan Harw (Haru).

Berkurangnya penduduk daerah pantai timur Sumatra akibat pelbagai perang ini, lalu diikuti dengan mulai mengalirnya suku-suku dari dataran tinggi pedalaman turun ke pesisir pantai timur Sumatra.

Suku Karo bermigrasi ke daerah pantai Langkat, Serdang, dan Deli. Suku Simalungun ke daerah pantai Batubara dan Asahan, serta suku Mandailing ke daerah pantai Kualuh, Kota Pinang, Panai, dan Bilah.

Dalam Riwayat Hamparan Perak yang dokumen aslinya ditulis dalam huruf Karo pada rangkaian bilah bambu, tercatat Guru Patimpus Sembiring Pelawi, tokoh masyarakat Karo, sebagai orang yang pertama kali membuka desa yang dikasih nama Medan.

Melainkan, naskah asli Riwayat Hamparan Perak yang tersimpan di rumah Datuk Hamparan Perak terakhir sudah hangus terbakar dikala terjadi kerusuhan sosial, tepatnya tanggal 4 Maret 1946.

Patimpus ialah anak Tuan Si Raja Hita, pemimpin Karo yang tinggal di Kampung Minggu (Pakan). Dia menolak menggantikan ayahnya dan lebih beratensi pada ilmu pengetahuan dan mistik, sehingga akibatnya diketahui sebagai Guru Patimpus.

Di akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan.

Melainkan setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan stop mendatangkan orang Tionghoa, sebab sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan tak jarang melakukan kerusuhan.

Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli perkebunan. Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian ditunjang untuk mengoptimalkan sektor perdagangan.

Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing, dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru, dan ulama.

Sejak tahun 1950, Medan sudah sebagian kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha pada tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan, kota Medan sudah bertambah luas hampir delapan belas kali lipat.